Ditulis oleh: Nur Indah Pardede
Usia ibtidaiyah adalah masa emas pembentukan karakter. Pada tahap inilah anak-anak paling mudah menerima kebiasaan baik yang akan melekat hingga dewasa. Rasulullah SAW menegaskan, “Tidaklah seorang ayah memberikan sesuatu yang lebih utama kepada anaknya daripada akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi)
Di MIN 21 Aceh
Selatan, pembelajaran bukan hanya tentang membaca, menulis, atau berhitung,
melainkan juga menanamkan adab islami dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang
terbiasa beradab akan tumbuh menjadi pribadi berilmu sekaligus berakhlak mulia.
Setiap bertemu guru, teman, atau orang tua, murid diajarkan mengucapkan salam dan tersenyum. Salam bukan sekadar sapaan, tetapi doa keselamatan. Dengan salam, hati murid akan lembut dan terbiasa mendoakan kebaikan.
Menjaga adab
ketika belajar
Belajar adalah ibadah. Karena itu, murid- murid perlu dibimbing untuk memulai pelajaran dengan doa, mengaji lima menit, mendengarkan guru dengan penuh hormat, serta tidak bermain-main saat belajar. Sikap sederhana ini membentuk rasa tanggung jawab dan kedisiplinan.
Menghormati
guru dan orang tua
Guru adalah wasilah ilmu, sedangkan orang tua adalah sumber kehidupan. Islam mengajarkan untuk menghormati keduanya. Anak-anak yang terbiasa memuliakan guru dan orang tua akan tumbuh dengan hati yang penuh keberkahan.
Membaca
Al-qur’an setiap hari
Al-qur’an adalah cahaya kehidupan. Membiasakan membaca dan menghafal ayat-ayat al-qur’an sejak dini akan menanamkan cinta kepada kalamullah. dari sinilah lahir generasi qur’ani yang kuat iman dan akhlaknya.
Madrasah
Ibtidaiyah Negeri 21 Aceh Selatan adalah tempat yang menanamkan adab islami
tersebut sejak dini. Dengan begitu madrasah menjadi taman ilmu juga taman
akhlak sekaligus. Dimulai dari madrasah kita berharap lahir generasi yang bukan
hanya cerdas dalam akademik, tetapi juga lembut tutur kata, santun sikap, dan
berjiwa islami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar